Sakura Tears


*~* Sakura Tears *~*

*~* Pairing : HaeHyuk *~*

*~* Rated : T *~*

*~*Genre : Romance, Hurt/Comfort *~*

*~* Warning : YAOI, DLDR, RCL/RnR *~*

*~* Summary : Dia akan pergi meninggalkanku setelah kelulusan ini…!!!*~*

*~* Disclaimer : Cerita ini milik saya yang saya sadur dari sebuah komik terbitan m&c!, karya Keiko Suenobu dengan judul yang sama dan beberapa alur yang sama, yang jelas ada beberapa yang berbeda^^ #plakkk*~*

*******

******

******

Eunhyuk POV

.

Aku berlari sekuat tenaga menuju kesekolahku, Super Junior High School, hari ini adalah upacara kelulusan sekolahku. Sesekali aku melihat jam ditanganku, jam 0630. Hem… sebenarnya belum terlambat, tapi aku sudah janji dengan seseorang, dia teman akrabku selama aku bersekolah disini. Namanya Lee Donghae, orangnya sangat tampan dan baik sekali. Aku selalu bersamanya sejak kelas satu dulu, dan seiring dengan berjalannya waktu itu, kurasa aku menyukainya. Tidak… lebih tepatnya aku mencintainya. Namun aku tak berani mengungkapkan karena aku takut dia akan membenciku jika tau aku menyukainya, walau bagaimanapun besarnya perasaanku kepadanya kami tetaplah sama-sama namja. Hubungan yang masih sangat tabu dan dibenci banyak orang, aku pun tak tau apakah dia memiliki perasaan yang sama denganku. Aku tak ingin mengatakannya, cukup aku memendamnya sendiri dan merasakannya dalam hatiku ini. Aku tak ingin kehilangannya saat dia mengetahui perasaan ini, perasaan yang telah kusimpan selama tiga tahun ini. Cukup hanya aku yang merasa sakit, aku tak ingin sakit ini bertambah saat mengetahui kalau dia tak mencintaiku. Bahkan kemungkinan terburuknya dia akan menjauhiku dan membenciku. Tidak… aku tak ingin itu terjadi.

Aku sampai didepan gerbang sekolahku, masih sepi. Sudah ramai sekali, tentu saja karena ini adalah hari kelulusan. Semua anak kelas tiga pasti bergembira menyambut hari ini. Aku memutari gerbang sekolah hingga aku sampai di sebuah gerbang kecil, lebih tepatnya pintu besi kecil yang ada di belakang sekolah. Ku buka dengan pelan dan aku langsung masuk. Kembali aku berlari menyusuri lorong sekolah yang sepi karena semua siswa sedang ada di halaman depan sekolah. Aku menaiki tangga dan berhenti didepan kelas III-2, kubuka handel pintu namun terkunci.

“Aish… kenapa dikunci sih?” gerutuku jengkel.

“Hyukkie…” aku mendengar suara yang sangat aku kenal itu, aku berbalik dan mendapati Donghae melongokkan kepalanya di sebuah jendela di kelas III-2.

“Sini cepat, lama sekali kau datang,” serunya sambil melambaikan tangannya.

Aku berlari menghampirinya dan masuk lewat jendela.

“Masuk lewat mana tadi?” tanya sambil mengeluarkan senyuman manisnya itu. Ahh… kau memang tampan Lee Donghae.

“Dari pintu belakang, kau?” tanyaku

“Loncat dari balik pagar,” jawabnya dengan cengiran.

“Ahh… kau memang selalu begitu. Wah… kau sudah mulai memotongnya?” tanyaku.

“Iya… sejak jam tujuh tadi.”

“Aish… berarti aku telat sejam dong,” jawabku sambil cemberut. Dia tertawa dan mengacak-acak rambutku.

Gwaenchana…” ujarnya sembari tersenyum manis.

Hari ini kami berencana membuat kejutan pada saat selesai upacara nanti, kami ingin membuat kenangan disaat hari terakhir kami di sekolah ini. Kami ingin membuat hujan sakura, yang tentu saja buatan. Mana ada pohon sakura yang tumbuh di Korea. Kami membuatnya dari kertas warna yang tentu saja berwarna pink. Kami berdua mulai lagi memotong kertas itu menjadi kecil-kecil.

“Pasti asik ya, habis upacara di hujani sakura tiba-tiba,” kudengar dia bertanya.

Aku melihat kearahnya dan tersenyum, “Pasti. Mereka kaget gak ya?”

“Pasti, di Korea kan gak ada pohon sakura,” jawabnya.

“Kenapa tiba-tiba terpikir hal ini?” tanyaku. Memang ini adalah idenya, dan aku menuruti saja karena kupikir pasti menyenangkan.

“Semoga kita sukses ya?” serunya tanpa menjawab pertanyaanku.

Aku melihatnya yang juga tengah memandangku, aku menatap langsung kedalam matanya yang indah. Hah… sangat tampan, dan jantungku ini, kenapa berdebar sangat kencang sekali. Aku langsung menundukkan wajahku lagi dan mulai menggunting lagi.

“Hyukkie akan meneruskan kuliah disini kan? Dan aku di Tokyo,” ujarnya lirih yang seketika membuatku mendongakkan kepalaku menatapnya.

Ahh… aku baru ingat kalau dia akan meneruskan kuliahnya di Tokyo. “Iya… aku lupa kau akan mengambil jurusan seni di Tokyo,” kataku pelan dengan menundukkan wajahku, kalau dia ke Tokyo itu artinya aku tak akan bertemu lagi dengannya. Aku akan berpisah dengannya, apakah aku sanggup?.

Donghae memerhatikan Eunhyuk dengan seksama, dia tau apa yang dirasakan Eunhyuk namun dia sengaja diam. Entah kenapa dia begitu takut mengakui perasaannya terhadap Eunhyuk. Dihelanya nafas dan kemudia melompat keluar kelas melalui jendela. “Aku beli minum dulu.”.

Eunhyuk memperhatikan kepergian Donghae dengan wajah sayu dan sorot mata penuh kesedihan. “Apakah aku sanggup berpisah dengannya? Entah kenapa aku menjadi takut kehilangannya, aku terlalu mencintainya hingga aku tak berani mengungkapkannya. Donghae-ah, apakah kau juga mencintaiku?” pikirnya sambil menundukkan wajahnya.

Eunhyuk kembali teringat dimana saat-saat kebahagiaannya dengan Donghae.

Eunhyuk POV.

Saat itu kami baru saja berkenalan setelah upacara penerimaan siswa baru, aku diterima dikelas X-1 dan aku duduk sendiri di meja kedua didekat jendela. Aku sedang asik memandang keluar lewat jendela hingga akhirnya Donghae mengejutkanku.

“Lee Hyukjae, tolong pinjamkan aku buku catatan Fisika mu. Aku tadi tidak mencatat.”

“Eh…???” aku terbengong menatapnya.

“Pleaseeee…” serunya sambil menangkupkan tangannya.

“I…iya,” seruku gugup sambil menyerahkan catatanku.

“Ahhh…gomawooooo…” serunya senang langsung memelukku.

Waktu itu aku hanya terbengong saja karena sangking terkejutnya akan reaksinya. Aku tak menyangka kalo dia akan memelukku. Setelah itu kami menjadi teman akrab dan terus bersama

Haha… aneh memang karena dari kelas satu hingga kelas tiga kami selalu bersama. Tapi aku senang sekali dengan itu semua. Entah kapan teatnya aku menyukai Donghae, yang jelas sejak Sampai suatu saat aku merasa sudah tak bias menahan lagi perasaanku, aku menemuinya dan ingin mengatakan semuanya, namun semuanya gagal.

”Ha…Hae-ah, aku ingin bicara,” ucapku dengan gugup dan dada berdebar.

“Aku juga ingin bicara,” sahutnya dengan masih menatap keluar jendela kelas yang sudah sepi.

“Eh… kalau begitu Hae duluan aja,” seruku. Aku gugup, apa yang akan dibicarakannya?

“Aku akan kuliah di Tokyo, aku ingin mengejar cita-citaku,” ucapnya.

“Eh…???” aku sangat terkejut mendengarnya.

“Ne… aku akan meneruskan kuliahku di Tokyo. Karena hanya di Tokyo yang ada jurusan Keseniannya. Aku ingin memperdalam ilmuku. Seperti katamu, bahwa aku harus mengejar cita-citaku. Aku memikirkan ini semua setalah mendengar semua ucapanmu saat itu. Kau masih ingat kan?” tanyanya.

Aku mengangguk, “Nde… aku masih ingat.”. Jika dia di Tokyo berarti aku tak akan ernah bertemu dengannya lagi dalam waktu yang sangat lama. Tak terasa air mataku mengalir, namun aku langsung menghapusnya.

“Oya… katanya kau ingin bicara? Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya.

“Ahh… haha… aku juga ingin mengatakan hal yang sama,” bohongku.

Dan saat itu aku langsung memendam semua perasaanku. Di satu sisi aku takut dia akan menjauhiku jika mengetahui siapa diriku sebenarnya, aku takut dia akan jijik padaku yang ternyata adalah penyuka sesama jenis. Tai aku tak pernah keberatan dengan perasaan ini, aku bahkan bahagia bias mengenalnya terlebih mencintainya. Hah… sangat menyakitkan memang memendam perasaan ini. Tapi aku tak keberatan dengan semua ini. Biarlah walaupun aku menjadi orang yang bodoh.

.

Eunhyuk POV End.

.

Tuk…

“Ah… dinginnnnn,” Eunhyuk berseru saat merasakan dingin ditengkuknya. Dia menoleh kebelakang dan mendapati Donghae yang tengah tertawa melihat tingkahnya. “Ya… Hae-ah, kau membuatku terkejut,” serunya dengan muka cemberut.

“Haha… habis kau melamun terus,” sahut Donghae langsung duduk di kursinya.

“Ahhh… aku jadi saat kita kelas dua dulu,” seru Eunhyuk tiba-tiba.

“Memang kenapa dengan dulu?” DOnghae bertanya heran.

“Dulu kau juga membelikanku minum seperti ini saat kita berolah raga dan aku sangat kecapean juga haus,” ceritanya dengan semangat.

“Benarkah?… aku tak ingat,” sahut Donghae dingin.

“Ehh…?” Eunhyuk menatap Donghae dengan tak percaya. “Ahh… haha… tentu saja dia tak ingat, hahaha… bodohnya aku mengaharapkan dia mengingatnya. Pabbo Hyukkie,” ujar Eunhyuk dalam hati. Perasaannya begitu terluka mendengar Donghae mengatakan hal itu, dia berpikir bahwa Donghae pasti sudah melupakan semua hal tentangnya. Tentang mereka berdua.

“Hyukkie… ayo ikut aku, ada yang ingin kutunjukkan,” seru Donghae tiba-tiba.

Eunhyuk langsung berdiri karena Donghae sudah menarik tangannya untuk segera pergi ketempat yang dimaksud. Mereka memasuki ruang kesenian, Donghae menarik Eunhyuk dan mendudukkannya di sebuah kursi. Donghae membuka kain penutup sebuah benda yang berada tepat diatas meja dimana Eunhyuk duduk.

“Ahhh…” teriak Eunhyuk saat melihat apa yang ada didepan matanya. Sebuah patung yang belum selesai namun menyerupai dirinya.

“Apakah bagus?” Tanya Donghae, Eunhyuk mengangguk.

“Mirip sekali dengan ku,” serunya senang. “Tapi kenapa belum selesai Hae?” tanyanya.

“Ahh… itu sebenarnya patung buat kenang-kenangan yang diminta oleh seonsaengnim. Ehm… aku butuh model untuk menyelesaikan dibagian lehernya. Maukah kau jadi modelku Hyukkie?” Tanya Donghae.

“Ehm… tentu saja aku mau,” serunya senang.

.

Donghae POV.

.

Arghhh… kau terlalu bodoh Lee Donghae, bukankan kau membuat patung itu untuknya? Lalu kenapa kau berkata lain? Ck… pengecut.

“Duduklah disana,” ujarku padanya sambil menunjuk sebuah kursi yang tepat berada didepan patung yang belum kuselesaikan. Hyukkie mengangguk dan duduk dikursi yang kutunjuk.

“Ahh… sebelumnya maaf, apakah aku boleh memegang lehermu? Aku perlu memastikan strukturnya?” tanyaku.

“Tentu saja boleh,” jawab Eunhyuk dengan muka senangnya. Hah… manis sekali.

Aku berjalan kearahnya dan aku memegang lehernya, seketika jantungku berdetak keras saat tanganku bersentuhan dengan kulitnya. Hangat dan nyaman sekali. Arghh… sial, kalau seperti ini bisa-bisa aku tak dapat menahan diriku lagi. Segera kutarik tanganku dan kembali ke kursiku. Lalu aku mulai meneruskan pekerjaanku. Entah kenapa Eunhyuk menjadi pendiam setelah aku menyentuhnya tadi, apakah dia merasa aneh? Hah… kenapa aku harus memiliki perasaan seperti ini. Dan tadi aku sudah menyakiti perasaannya. Mianhae.

“Eunhyuk-ah, jangan terlalu menunduk,” seruku.

“Eh…??? Ahh… maaf,” serunya kaget dan menegakkan lagi wajahnya.

Sepuluh menit berlalu dan aku sudah menyelesaikan bagian leher, sekarang tinggal wajah dan hanya bagian bibirnya yang belum. Kenapa belum? Haha… tentu saja aku tak bisa menyelesaikannya, walaupun sebenarnya aku tahu bagaimana bentuk bibirnya. Aku hanya mampu menyelesaikan bagian yang lain terkecuali bibirnya.

“Ahh… Eunhyuk-ah, aku belum menyelesaikan bagian bibirnya. Ehm… itu???” aku menggaruk kepalaku yang tak gatal.

“Kau boleh melihatnya Hae,” serunya dengan senyum manis yang sangat indah dibibirnya. Aku mengangguk dan mendekat kearahnya. Aku menundukkan wajahku mengamati bentuk bibirnya. Ahh… sangat indah, aku yakin pasti lembut dan tanpa kusadari wajahku semakin mendekat kearahnya hingga aku nyaris menciumnya kalau saja tak ada suara yang menginterupsi tindakanku.

“Ahh… Donghae-hyung, upacara perpisahan segera dimulai, kenapa masih disini?” seru salah satu adik kelasku yang juga masuk di kesenian ini.

“Ahh… ya,” jawabku dan langsung pergi meninggalkan Hyukkie begitu saja.

.

Donghae POV end.

.

Donghae sudah pergi dan tinggal Eunhyuk sendiri. Eunhyuk hanya diam duduk dikursinya. “Ahh… perasaanku… perasaanku rasanya sudah tak bisa kubendung lagi. Kenapa? Kenapa kau memperlakukanku seperti itu Hae? Kau tau? Aku sudah sangat menderita dengan perasaan ini, Tuhan… semoga aku bisa menahan perasaan ini. Tangannya tadi terasa hangat sekali, bahkan sampai sekarang masih terasa hangatnya. Sangat nyaman sekali rasanya. Dan tadi itu… tadi… apakah dia akan menciumku? Haha… mikir apa kau Lee Hyukjae, tak mungkin dia mau menciummu. Dia hanya mengamati bentuk bibirmu. Tapi… tadi aku bisa mencium harum nafasnya, aroma mint. Menyegarkan sekali. Ahh… sebaiknya aku segera ke aula, upacara kelulusan akan segera dimulai. Dan apa-apaan tadi itu? Dia meninggalkanku sendiri tanpa pamit. Ck… dasar ikan menyebalkan!!!” gerutunya sendiri dan langsung beranjak pergi meninggalkan ruang kesenian itu.

.

#

.

“Hyukkieeeeeeeeeee… ayo cepat, nanti kita terlambat,” seru Donghae. Saat ini mereka tengah berada diatap sekolah bersiap untuk menghamburkan kertas-kertas berwarna pink yang telah mereka potong kecil-kecil.

“Ayo… kita hanbur sekaranga,” seru Eunhyuk antusias. Mereka langsung menghamburkan kertas-kertas tersebut dan mereka bisa melihat dibawah sana, teman-teman mereka tengah terkejut, terkesan dan bahkan wajah senang terlukiskan melihat itu semua.

“Ahhh… mereka ada yang menangis,” seru Eunhyuk menunjuk sekumpulan anak cewek yang tengah menangis sambil mendongak menatap kertas-kertas yang terus berjatuhan.

“Hyukkie…” panggilan Donghae mengalihkan perhatian Eunhyuk. Dia menatap Donghae yang juga tengah menatapnya. “Gomawo… gomawo untuk semuanya, untuk menjadi teman baikku selama ini. Untuk selalu menghiburku saat aku sedih, marah dan sedang dalam mood yang jelek bahkan buruk sekali. Gomawoyo…untuk semuanya. Kita akan bertemu lagi lima tahun kedepan. Besok aku akan berangkat ke Tokyo. Sampai jumpa,” ujar Donghae dan langsung berbalik pergi meninggalkan Eunhyuk.

Eunhyuk yang melihat Donghae pergi meninggalkannya menarik seragam Donghae dengan kepala tertunduk. Dia menangis, menangis karena saat ini adalah saat ini adalah saat terakhir dirinya bia melihat Donghae, temannya sekaligus orang yang sangat berarti untuknya.

Donghae menghentikan langkahnya saat merasakan  baju seragamnya ditarik. Dia menoleh kebelakang dan mendapati Eunhyuk yang tengah menangis sambil menundukkan wajahnya. Hatinya sakit melihat itu semua tapi dia harus kuat.

“Jangan… janga pergi Hae, jangan pergi… jangan tinggalkan aku sendiri… hiks,” Eunhyuk jatuh terduduk setelah mengucapkan itu semua. Air mata makin deras mengalir di wajahnya. “Jangan tinggalkan aku sendiri… aku menyukai Hae, aku mencintai Hae, jangan tinggalkan aku sendiri. Tetaplah disini bersamaku,” ucapnya disela tangisnya.

Donghae terkejut mendengar itu semua, dia langsung menghampiri Eunhyuk. Memeluknya dengan erat. “Aku juga mencintaimu Hyukkie, tapi aku takut mengatakannya. Aku takut kau akan membenciku. Saat aku mengatakan aku tak mengingat semua hal yang terjadi tentang kita aku berbohong. Tentu saja aku mengingat itu semua, saat aku meminjam catatanmu, saat kau terjatu, saat kita berdua bermain seeda ditaman, saat kau kecapean pas pelajaran olah raga. Kau tau… patung tadi sebenarnya bukan untuk kenang-kenangan, patung itu kubuat karena ingin kuberikan padamu, namun aku tak bisa menyelesaikannya karena aku selalu gugup jika mengingat semua hal tentang mu. Aku mencintaimu Hyukkie. Sangat… aku sangat mencintaimu,” papar Donghae setelah mendengar Eunhyuk mengungkapkan perasaannya.

Eunhyuk memeluk Donghae dengan erat. Air matanya mengalir semakin deras, tapi kali ini bukan air mata kesedihan, namun air mata kebahagiaan karena orang yang selama ini dicintainya pun ternyata sangat mencintainya.

Donghae mengelus lembut punggung Eunhyuk. Hatinya lega setelah mengatakan semuanya. Dirainya dagu Eunhyuk hingga dia bisa melihat wajah Eunhyuk. Diatatapnya mata yang memerah karena tangis itu. Perlahan didekatkannya wajahnya hingga akhirnya dia mencium Eunhyuk. Sebuah ciuman ringan namun penuh perasaan. Dia ingin menyampaikan semuanya. Menyampaikan seberapa besar rasa sayang dan cinta yang dia punya untuk Eunhyuk. Ciuaman lembut namun penuh dengan kehangatan. Dia menyudahi ciumannya dan mendapati wajah Eunhyuk yang memerah dan tangis yang sudah berhenti.

Saranghae…” ujarnya pelan dan kembali mencium Eunhyuk. Sahabatnya yang kini telah menjadi kekasihnya. Diciumnya Eunhyuk secara penuh. Dilumatnya bibir lembut Eunhyuk dengan penuh kasih. Digigitnya bibir bawah Eunhyuk agar sang empunya membuka bibirnya hingga dia bisa menjelajahi gua hangat dan lembab kekasihnya. Tak butuh waktu lama karena Eunhyuk membuka bibirnya dan Donghae menyelipkan lidahnya kedalam gua hangat Eunhyuk. Lidahnya membelai lembut dinding atas gua hangat kekasihnya.

“Eunghh…” desahan halus terdengar ditelinganya.

Mereka terus berciuman dibawah langit biru yang cerah. Secerah hati mereka berdua yang saat ini sedang bahagia.

“Na ddo saranghae Hae-ah…” ujar Eunhyuk dalam hati.

.

#

.

Eunhyuk tengah berdiri dibawah pohon besar dihalaman kampusnya. Sudah setahun berlalu sejak mereka lulus sekolah. Dan saat ini disinilah dia, duduk dibawah pohon rindang sambil menunggu kekasihnya dating.

Chagiya… mianhae aku lama. Dosenku baru keluar,” seru Donghae dan langsung duduk sambil mengatupkan kedua tangannya didepan wajahnya. Memohon maaf kepada kekasihnya agar jangan merah karena terlambat.

Ya… semenjak pengakuan keduanya di hari akhir mereka sekolah, Donghae memutuskan untuk kuliah di Seoul saja. Dia mengambil jurusan management sesuai dengan permintaan kedua orang tuanya.

Gwaenchana…” sahut Eunhyuk dan langsung memeluk Donghae. Dia menatap langit biru yang sangat indah. “Terima kasih Tuhan. Aku masih bersamanya, disini… dibawah langit yang sama dan ditanah yang sama. Terima kasih.” Ujarnya dalam hati.

.

#

.

T   H   E   E   N   D

.

.

Uwoooooooooooooooooooo……… ini fic requesan Ceil unn dan Debora chagi. Ehehe… mian untuk waktu yang sangat lama.

Buat Ceil unn :: Hanya ini yang bisa saya berikan #plakkk. Maaf jika sekiranya tidak sesuai harapan. Maaf untuk lama publish. Unnie chagi tau kana pa alasannya #ngekkk.

Buat Debora :: Ehehe… #garuk2pala. Mian chagiya… birthday ficnya telattttttttt #mewek. Saengil chukka :). Semoga tambah cantik, tambah pintar, banyak rezekinya dan sehat selalu. Maaf sekali lagi karena telat :(.

.

.

Ok… kenapa bisa telat????

Pertama :: Karena wifi di kosan lagi ngadat selama seminggu lebih dan ane males kewarnet.

.

Kedua :: Gara-gara laptop sialan itu lemah hardisknya jadi gak bisa di install ulang dan terpaksa saya tanpa laptop selama dua minggu. Bahkan saat mengetik ini saya minjam laptop teman dan ngapdetnya diwarnet #huwaaaa… nangis kejer inget laptop.

.

Ketiga :: Dasar pakde ku sialan #plakkk. Dia bilang sama ane gini.

Pakde : Sudah jual aja latopmu. Nanti pade tambahin uangnya buat beli yang baru.       

Ane : Serius pakde?

Pakde : Iya serius. Sudah jual aja, dari pada baikin mahal.

Ane : Ayeyyyyy… baiklah kujual #dengan riangnya langsung nelpon orang yang mau beli.

Namun ternyata dan ternyata pakde saya bohonggggggggggggggggg. Sampe sekarang  dia gak ada ngasih ane duit buat beli laptop. Sialan!!!. Tau gitu pan ane gak jual dulu. Beliin hardis yang murah-murah pan ada. Ish… menyebalkan.

.

Keempat :: Yup… saya harus ngetik ulang karena data C saya ilang, ini adalah hal yang paling menyebalkan.

.

.

Maaf… sekali lagi maaf untuk keterlambatannya #bow. Maaf juga untuk judul yang nggak nyambung dengan ceritanya #digampar.

.

Arghhhhhhhhh… nangis lagi karena masih punya hutang ff buat Zu ma putri unn ditambah Maki, nagih minta birthday fic juga. Huwaaaaaa…. Heleppppppp.

.

Ok… cukup sekian acara curhatnya. Semoga ff-nya sesuai dan berkenan dihati. Kalau gak… maaf ToT.

About these ads

7 comments on “Sakura Tears

  1. Kurang panjannng *plakkk
    ga dilanjutin ke adegan NC (ni org bnyk maunya) kkk
    eunhae oh eunhae sama2 payah nih *goyang gayung

    gomawo krn bikin epep ini dg penuh perjuangan #loekataperang :D
    ne chagi~ …unn ngerti kok alasanmu knp :)

  2. halmoniiiii ^^
    Mana NC nya?
    *kecilkecilyadong*

    Aku khn requesnya yg HaeHyuk yg NC an
    tpii yesungdahlah yg penting udah di bikinin

    gomawo halmoni
    pay pay ^^

  3. yaahhh hae payah nih g brni blg ma hyukkie tpi untung’a hyukkie blg jg,g jdi pergi deh yeeeeeyyyy HAPPY END
    aq suka itu,chukkae HAENYUK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s